Potensi Hunian Terintegrasi Bagi Milenial Menjanjikan

Perkembangan transportasi di kota-kota besar akan memberikan dampak positif terhadap pembangunan hunian terintegrasi, khususnya bagi kalangan milenial. Para pelaku usaha diminta jeli untuk menggarap sektor ini.

Sekretaris Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) Dadang Rukmana mengatakan, kebutuhan simpul jaringan transportasi di wilayah Jabodetabek begitu besar. Ini akan menjadi peluang bagi pelaku usaha guna mengembangkan hunian terintegrasi.

Selama ini, kata dia, pengembangan pembangunan rumah susun terintegrasi stasiun lebih banyak digarap oleh BUMN, khususnya perusahaan negara sektor karya dan transportasi, seperti KAI.

“Pengembangan pembangunan rumah susun terintegrasi stasiun menjadi langkah awal bagi pemerintah bagi terbentuknya TOD (Transit Oriented Development),” kata Dadang ketika menjadi pembicara di acara FGD “Hunian Terintegrasi untuk Milenial” yang diselenggarakan oleh Forum Warta Pena di Hotel Amaroossa Jakarta, Rabu (8/5).

Menurut Dadang, selama ini pengembangan hunian terintegrasi dilakukan melalui skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU). Karena guna mewujudkan TOD yang ideal harus memenuhi sejumlah persyaratan. Sedangkan tugas dari pemerintah hanya sebatas memberikan fasilitas.

“Ini akan menjadi stimulus bagi insiatif pengembang guna memanfaatkan simpul-simpul transportasi dengan memanfaatkan aset yang sudah ada,” kata Dadang.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Umum DPP REI Bidang Tata Ruang Kawasan, Properti, Ramah Lingkungan, Hari Ganie mengatakan, persoalan TOD bukan hanya menyangkut persoalan transportasi, tapi terkait persoalan urban development.

“Urban development terkait masalah perizinan, pembebasan tanah, Amdal, dan lainnya. Ada kawasan inti dan plasma, dan masalah pembebasan tanah ini tidaklah mudah,” kata Ganie.

Sejauh ini pengembangan TOD diatur oleh sejumlah aturan seperti, Perpres No. 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi; Permen ATR/ Kepala BPN No. 16 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Berorietnasi Transit; dan Pergub DKI Jakarta No. 44 Tahun 2017 tentang Pengembangan Kawasan Transit Oriented Development (sedang dalam proses revisi).

Beri Kemudahan

Besarnya potensi hunian terintegrasi didongkrak oleh bonus demografi di Indonesia. Ke depan akan semakin banyak anak-anak muda yang membutuhkan rumah, sehingga menjadi tantangan bagi para developer, bagaimana menangkap peluang pasar tersebut.

Ganie menuturkan, pembangunan di kawasan TOD akan menjadi peluang bagi bisnis properti ke depan. Beberapa pengembang anggota REI sedang mengembangkan kawasan di sekitar pintu transit kereta api, seperti Stasiun Jurangmangu oleh Jaya Group dan Stastiun Cisauk oleh Sinarmas Land.

“Arah perkembangan transportasi publik harus mengarah ke sebelah barat Jakarta. Ini seiring dengan beban transportasi juga semakin meningkat seiring semakin banyaknya masyarakat yang tinggal ke arah sana. Karena saat ini transportasi public seperti MRT dan LRT, lebih banyak menangkap pasar dari sebelah timur dan selatan Jakarta,” jelas Ganie.

Pimpinan Divisi Konsumer BNI Syariah Samson mengatakan, pihak BNI Syarian siap memberikan pembiayaan bagi kalangan milineal. Sejumlah kemudahan bisa diperoleh para calon konsumen, diantaranya bebas biaya adminitrasi, bebas provisi, bebas pinalti, dan bebas denda.

“Bagi pegawai baru baik ASN, BUMN, dan swasta tak perlu khawatir karena kita tengah menyiapkan skema pembiayaan hingga 30 tahun,” kata Samson.

Manager Konten Rumah.com Boy Leonard Pasaribu melihat kalangan milenia paling bersemangat membeli properti, namun minim pengalaman dan informasi. Pengembang dapat memberikan bantuan informasi hingga pengurusan pengajuan KPR.

Dia juga mengingatkan agar pengembang memiliki strategi pemasaran dengan karakter milenial yang dinamis, technology-minded, dan menyukai desain yang unik.

“Meskipun mereka bersemangat dan sadar akan kebutuhan memiliki rumah, tetapi mereka masih kurang referensi dan panduan untuk mewujudkannya. Ini bisa terlihat  dari strategi menabung mereka, di mana mayoritas hanya menabung sebisanya dan menyisihkan paling banyak 25% dari bonus tahunan,” terangnya.

Berdasarkan usia, kalangan milenial adalah kalangan yang paling resisten terhadap rumah seken. Total, 61% dari kalangan milenial hanya menghendaki rumah baru, hanya 39% yang tak keberatan dengan rumah seken. Kecenderungan terjadi kebalikannya di mana kelompok umur yang lebih tua (40-59 tahun), hanya 34% yang hanya menginginkan rumah baru.

Sepakat dengan pembicara sebelumnya, Boy memperkirakan akan ada peningkatan transaksi pembelian properti khususnya para konsumen KPR pada kuartal III 2019.

“Pengguna KPR baru akan naik pasca Pemilu, bulan Ramadhan, Idul Fitri dan tahun ajaran baru sekolah karena masyarakat cenderung akan lebih memprioritaskan dana untuk penggunaan yang konsumtif,” katanya.