FLPP per 16 Oktober 2019 Telah Terserap 96,13%

Lembaga Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (LPDPP) sebagai lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) telah menyalurkan dana FLPP per 16 Oktober 2019 sebanyak 66.196 unit atau sebesar 96,13% jika dibandingkan dengan target 68.858 unit tahun 2019. Penyaluran itu senilai dengan Rp6,380 Triliun atau 89,86% jika dibandingkan dengan anggaran tahun 2019 sebesar Rp7,1 Triliun. Serapan dana FLPP tersebut terdiri dari 66.084 unit rumah tapak dan 112 unit rumah susun.

Dalam pembicaraan dengan media yang berkunjung ke kantor LPDPP, Direktur Utama LPDPP, Arief Sabaruddin menyampaikan bahwa FLPP bisa mandiri sebagai dana pembiayaan perumahan hingga 10 tahun ke depan. Saat ini LPDPP telah mengelola  total  penyaluran dana FLPP dari tahun 2010 hingga 16 Oktober 2019 sebanyak 644.067 unit senilai Rp Rp43,212 Triliun. “Jika telah mencapai 100 triliun maka dana FLPP ini akan bisa mandiri dan tidak tergantung dari APBN lagi,” demikian ungkapnya dengan optimis.

Menurut Arief, penyerapan FLPP yang begitu cepat terjadi karena mekanisme kerja sama antara pengembang, bank pelaksana, dan LPDPP semakin membaik. Sementara, kebutuhan rumah oleh masyarakat berpenghasilan rendah masih sangat tinggi. Melihat tren permintaan rumah subsidi yang terjadi saat ini, lanjut Arief, tahun depan kemungkinan habisnya dana FLPP di tengah jalan dapat terjadi.

Tahun 2020 anggaran untuk dana FLPP sebesar Rp11 triliun ( RP 9 Triliun dari APBN dan Rp2 Triliun dari pengembalian pokok) untuk 102.500 unit (di nota keuangan Kementerian Keuangan). Namun jika melihat harga rumah subsidi untuk tahun 2020 maka hanya mampu untuk 90 ribu unit Rumah Sejahtera FLPP.