Kajian Dampak Sosial Ekonomi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan Tahun 2021

International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (FEM IPB) bersama dengan Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tentang kajian dampak sosial ekonomi atas Program Pembiayaan Perumahan dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan Tahun 2021. implemntasi kajian ini secara efektif dimulai pada minggu ke-4 bulan Maret 2021 hingga Agustus 2021.

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dampak sosial ekonomi atas penyaluran Program KPR FLPP yang dilakukan oleh BLU PPDPP, baik pada level makro maupun mikro. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa FLPP memiliki dampak positif dan sekaligus menghitung besaran dampaknya secara terukur melalui kajian yang komprehensif, baik terhadap bidang sosial dan ekonomi, pada level makro maupun mikro.

Acara FGD tentang Kajian FLPP ini dilaksanakan pada hari Kamis, 19 Agustus 2021 dan dihadiri oleh 3 Narasumber utama diantaranya Arief Sabaruddin selaku Direktur Utama PPDPP; Dr. Alla Asmara, S.Pt, M.Si selaku Dosen Pengajar Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Universitas IPB dengan Kepakaran Ilmu Ekonomi Pertanian; dan Dr. Widyastutik, SE, M.Si selaku Dosen Pengajar Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Universitas IPB dengan Kepakaran Ekonomi Pembangunan. Pada acara ini juga menghadirkan Penanggap Diskusi yaitu Muhammad Nahdi selaku Kepala Subdirekorat Kekayaan Negara Dipisahkan (KND) dan Arief Rahman Hakim selaku Direktur Keuangan PPDPP.

Sejak pembentukannya hingga tahun 2020, BLU-PPDPP telah menyalurkan sebanyak 764.856 unit melalui FLPP di seluruh wilayah Indonesia dengan total anggaran mencapai hingga Rp55,60 triliun. Keberadaan BLU-PPDPP dan aktivitasnya memiliki kontribusi penting dalam menyukseskan Program Pembangunan Sejuta Rumah per tahun sesuai rencana strategis Kementerian PUPR. Dimana, secara kumulatif telah tercatat sebanyak 4.800.170 unit rumah layak huni di seluruh wilayah Indonesia selama tahun 2015-2019. Selanjutnya, sebanyak 71,37 persen diantara rumah layak huni tersebut merupakan rumah bagi kelompok MBR.

Sektor perumahan yang difasilitasi oleh BLU-PPDPP menjadi salah satu sektor yang memiliki efek pengganda, baik backward maupun forward linkage. Pengaruhnya yang sangat luas diharapkan dapat membantu memulihkan perekonomian nasional, apalagi saat pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) seperti sekarang ini. Setiap input di sektor perumahan mempunyai kemampuan untuk meningkatkan perekonomian pada sektor lainnya baik secara langsung, tidak langsung maupun dampak terinduksi, seperti pada sektor perdagangan, pendidikan, jasa, kesehatan, industri, dan puluhan sektor lainnya. Secara spesifik, dampak pertumbuhan sektor perumahan akan memengaruhi kurang lebih 140-174 industri turunannya, seperti industri material bahan bangunan, genteng, semen, paku, besi, kayu, dan lain sebagainya, serta melibatkan lebih kurang 3.500 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pada tataran yang level makro, perkembangan sektor perumahan tersebut juga menghasilkan outcome dimana dapat mendorong penyerapan tenaga kerja, yaitu mencapai 4,23 juta orang. Outcome lainnya  berupa peningkatan kualitas hidup dari sisi pendidikan dan kesehatan akibat terbangunnya rumah yang layak dan terpeliharanya fasilitas pendukung, dan penurunan biaya-biaya (searching cost, transaction cost, dan sebagainya) akibat terbangunnya dan terpeliharanya fasilitas pendukung lainnya.

Analisis dampak sosial dan ekonomi dari pemberian FLPP oleh BLU-PPDPP pada level makro didekati oleh tiga skenario, yaitu Pertama, realisasi penyaluran FLPP yang berbasis pendekatan alokasi anggaran; Kedua, penurunan harga rumah bersubsidi bagi MBR yang merepresentasikan peningkatan daya beli masyarakat; Ketiga, realisasi penyaluran FLPP disertai dengan peningkatan permintaan sektor perumahan oleh MBR untuk mengkomparasi respons FLPP terhadap potensi peningkatan permintaan perumahan.

Secara umum, Program FLPP berdampak positif terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaan variabel-variabel makro ekonomi yang masih bergerak positif. Selanjutnya, Program FLPP menstimulasi daya tarik investasi di sektor perumahan bersubsidi menjadi lebih tinggi relatif terhadap jenis investasi di sektor lain.

Program FLPP juga memberikan dampak terhadap pertumbuhan impor yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian daripada komponen bahan baku dan penolong dalam sektor perumahan berasal dari impor. Hasil analisis dampak program FLPP terhadap perubahan sektoral mencakup perubahan (1) produksi/output) dan (2) penyerapan tenaga kerja. Hi-light temuan yang penting bahwa sektor-sektor yang banyak tumbuh justru adalah sektor fasilitasi perumahan dan sektor ikutannya dibandingkan sektor bangunan perumahan.

Dampak Program FLPP berdampak positif terhadap MBR yang memperoleh program tersebut. Dampak positif atau perbaikan kondisi sosial ekonomi MBR terefleksikan melalui aspek pendapatan keluarga, pendidikan keluarga, kesehatan keluarga, pekerjaan keluarga, akses terhadap listrik, akses Program FLPP membantu MBR dalam pengambilan keputusan berkonsumsi.

Upaya lain dalam rangka supervisi peningkatan kualitas perumahan bagi MBR adalah dengan meningkatkan peran aplikasi SiPetruk. SiPetruk terintegrasi dengan Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (SiKasep) dan Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (SiKumbang). Centralized Big Data yang terintegrasi antar lintas stakeholder yang terlibat akan menjembatani berbagai informasi dalam rangka meningkatkan akses MBR terhadap perumahan yang layak dan berkualitas.