Ketika Danny Tak Lagi Numpang di Pondok Mertua

Danny Adriadhi Utama (35), menarik nafas lega. Laki-laki muda itu tak mampu menyembunyikan rasa bangga, sekaligus bahagianya.

Senyumnya terus mengembang. Danny layak merasa bangga dan bahagia, dia baru saja menandatangani akad kredit pemilikan rumah (KPR) dari Bank BTN. Rabu, 5 Februari 2020, menjadi hari yang akan terus dikenangnya sepanjang hidup, setelah tentu saja: hari pernikahannya. Pasalnya, di hari itu, impiannya untuk memiliki sebuah rumah idaman bersama istri dan seorang anaknya yang masih balita, terwujud.

‘’Terus terang, saya sangat senang, terharu, campur jadi satu. Impian saya dan istri untuk memiliki rumah sendiri dapat terkabul. Saya yakin, ini jawaban atas doa dan ikhtiar kami selama ini,’’ ungkap pria bertubuh kecil itu,  Senin (10/2/2020).

Pria karyawan sebuah penerbitan itu mengaku, selama enam tahun berumahtangga, belum memiliki rumah sendiri. Dia dan keluarga kecilnya hidup seatap bersama orangtua sang istri. ‘’Ya, akhirnya saya berhasil keluar dari vila mertua indah,’’ selorohnya sambil tertawa.

Danny mengaku, meskipun terbilang kecil, namun baginya rumah bersubsidi itu merupakan ‘’istana’’ bagi keluarga kecilnya. Terletak di kawasan Pringsari, Pringapus, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Semarang, menurut dia, rumahnya itu terbilang istimewa. Rumah berukuran 30 meter persegi dengan luas tanah 60 meter persegi itu, memiliki ruang tamu, dilengkapi dua kamar tidur, kamar mandi jongkok, serta carpot selebar 2,5 meter. Selain itu, listrik 1.300 watt dan air PDAM. Jalan perumahan pun terbilang cukup lebar 8 meter.

Ikhtiarnya bersama sang istri untuk keluar dari zona nyaman ‘’vila mertua indah’’, bukan perkara mudah. Keduanya harus rajin menyisihkan gaji masing-masing, menabung untuk membeli rumah. Dia mengaku, selain survei harga rumah yang terjangkau, bersama istri juga ikut melakukan survei dan membandingkan sejumlah bank yang menyediakan KPR.

‘’Semula, saya sempat ke sebuah bank swasta. Namun syarat dan skema pembiayaannya terbilang rumit dan berat. Saya mundur,’’ ujarnya.

Setelah melakukan pertimbangan, dengan menyerap pengalaman teman dan menggali berbagai informasi di internet, Danny akhirnya memutuskan ikut KPR BTN.

‘’Saya dan istri memilih KPR BTN, selain bank pemerintah, menurut kami BTN juga sudah terbukti berpengalaman puluhan tahun di bidang KPR,’’ ungkapnya.

Bersama istri, dia memutuskan mengambil rumah bersubsidi, dengan mengakses SiKasep (Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan).

Aplikasi ini diluncurkan Desember 2019 lalu oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Aplikasi ini diharapkan dapat mendorong kinerja Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) dalam menyalurkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) secara lebih cepat, tepat, dan akuntabel. Sasarannya adalah bisa mempermudah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam mencari dan menentukan rumah bersubsidi sesuai dengan yang diharapkan.

Danny segera mengunduh aplikasi SiKasep secara gratis melalui playstore. Namun, dia mengaku, pengajuan kreditnya melalui SiKasep tak mulus. ‘’Sekali eror, katanya eror dari pusat. Baru yang kedua berhasil. Setelah pengajuan kredit online itu berhasil dan disetujui, tiga hari menunggu, saya dapat panggilan untuk akad kredit,’’ tuturnya.

Kini per 7 Februari 2020 telah terdapat 87 orang senilai Rp8,46 miliar, Danny…Danny lainnya yang telah menikmati dana FLPP untuk memiliki rumah sendiri./disadur  dari  Beritasatu.com –