Saatnya Mulai Beralih ke Hunian Vertikal

Ketersediaan lahan yang semakin terbatas, membuat hunian vertikal ke depan semakin dibutuhkan.Tak bisa dipungkiri kalau gaya hidup tinggal di hunian vertikal belum membudaya di Indonesia. Terbiasa dengan hidup di rumah tapak, berkebun dan memiliki ruang bermain yang luas, bercengkerama dengan tetangga menjadi halangan tersendiri untuk beralih tinggal di hunian vertikal.

Jika melihat sebaran penyaluran dana FLPP tahun 2010 sampai dengan bulan Agustus 2016 yang dikeluarkan oleh Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) berdasarkan jenis KPR yang terdiri atas KPR Sejahtera Tapak dan KPR Sejahtera Susun, maka akan terlihat minimnya minat masyarakat terhadap hunian vertikal. KPR Sejahtera Tapak mendominasi penyerapan dana FLPP yaitu mencapai 470.694 unit atau sebesar 99,95% sedangkan KPR Sejahtera Susun hanya menyerap 249 unit atau sebesar 0,05%.

Direktur Housing Urban Development, Zulfi Syarif Koto berpendapat pemerintah harus gencar terus mensosialisasikan dan mendampingi masyarakat agar mau tinggal di hunian vertikal alias rumah susun.Namun tentu saja, fasilitas yang disediakan di rumah susun harus komplit. Mulai dari angkutan umum dan akses yang mudah ke tempat kerja hingga dekat dengan area pasar induk atau stasiun dan terminal bus.

Sosialisasi yang dilakukan harus gencar dan berkesinambungan. Pemahaman kepada masyarakat bahwa tinggal di hunian vertikal akan menjadi lebih efektif jika dibandingkan dengan di rumah tapak.